Kamis, 17 April 2014

PENGEMBANGAN INSTRUMEN IDENTIFIKASI BAKAT OLAHRAGA


PENGEMBANGAN 
INSTRUMEN IDENTIFIKASI BAKAT
OLAHRAGA
                                             (alif syafitar riansa, S.Pd)

Abstrak:Kajian ini ditulis untuk memberikan gambaran bagaimana
mengembangkan instrumen identifikasi bakat. Beberapa kriteria yang
dapat digunakan untuk melakukan identifikasi bakat, yaitu: kesehatan;
kualitas biometrik; faktor hereditas; fasilitas dan iklim; serta
tersedianya para ahli. Identifikasi calon atlet berbakat tidak dapat
dipecahkan hanya dengan satu usaha, tetapi memerlukan waktu
beberapa tahun yang terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu: fase primer;
fase kedua; danfase akhir. Instrumen pemanduan bakat harus bersifat
spesifik dan disesuaikan dengan cabang olahraga masing-masing, yang
pengembangannya dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan.
Pendekatan pertama dilakukan dengan cara menyusun tes baterei,
sedangkan pendekatan kedua dilakukan dengan menggunakan tes baku
yang telah dikembangkan para ahli. Salah satu tes baku terkenal adalah
tes identifikasi bakat dari Australian Sports Commision. Butir-butir tes
terdiri dari: Tes tinggi badan; Tes berat badan; Tes tinggi duduk; Tes
rentang lengan; Tes lempar tangkap bola; Tes lempar bola basket; Tes
lompat tegak; Tes lari bolak-balik; Tes lari 40 meter; dan Tes lari
multitahap.
Kata kunci:Identifikasi bakat, seleksi bakat, dan pengembangan bakat.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak, remaja bahkan
orang dewasa banyak yang terlibat dalam kegiatan olahraga.  Hampir di
Setyo Nugroho adalah dosen Jurusan Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri
Yogyakarta.
163
Pengembangan Instrumen Identifikasi Bakat Olahraga (Setyo Nugroho)
setiap lapangan ataupun fasilitas umum yang ada, dipenuhi anak-anak
sampai orang dewasa untuk sekedar melakukan kegiatan olahraga. Dari
fenomena yang ada perlu disadari bahwa kegiatan yang dilakukan oleh
pecinta olahraga, mempunyai tujuan berbeda antara satu dengan lainnya,
sehingga tidaklah aneh jika menjumpai kegiatan olahraga yang sama,
namun dilakukan dengan cara dan dalam bentuk berbeda. Hal ini terjadi
akibat adanya perbedaan tujuan beraktivitas. Perbedaan bentuk aktivitas
tersebut hendaknya tidak terlalu dirisaukan, karena tidak jarang terjadi
aktivitas profesional yang dilakukan oleh para atlet, pada mulanya
diawali dengan aktivitas yang bersifat hobi atau amatir.
Bompa dalam Theory Methodology of Trainingmenyatakan,
keterlibatan para remaja di negara barat dalam aktivitas olahraga
sebagian besar didasarkan pada tradisi, idealisme, popularitas cabang
olahraga, desakan orang tua, keterampilan yang dimiliki guru olahraga di
sekolah, ketersediaan alat dan fasilitas olahraga, dan sebagainya.
Gambaran di atas terjadi beberapa waktu yang lalu atau mungkin juga
masih terjadi sampai saat ini (Bompa, 1990).
Keadaan di atas tentunya akan mengecewakan hati para ahli teori
latihan, karena dalam kondisi tersebut seorang anak yang mungkin
secara alami berpotensi dalam cabang olahraga tertentu bisa berubah
menjadi atlet cabang olahraga lainnya, yang sebenarnya anak tersebut
tidak mempunyai potensi yang sesuai dengan cabang olahraga yang
digelutinya. Hasil akhir situasi di atas dapat diduga, bahwa anak yang
terlibat dalam kegiatan tersebut akan mendapatkan hambatan dalam
upayanya untuk meraih prestasi puncak yang diharapkan.
IDENTIFIKASI BAKAT
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksudkan
dengan bakat adalah dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang
dibawa dari lahir  dan dalam Webster’s Encyclopedic Unabridged
Dictionary of the English Languagedinyatakan sebagai  a special
natural ability.  Dari pengertian bakat di atas, selanjutnya dapat
dikatakan bahwa identifikasi bakat olahraga adalah proses pemberian ciri
(karakteristikisasi) terhadap dasar kemampuan yang dibawa dari lahir
yang dapat melandasi keterampilan olahraga.
164
JURNAL IPTEK OLAHRAGA, VOL.8, No.3, September 2006: 163-177.
Deborah Hoare menyatakan bahwa pemanduan bakat mengandung
tiga pengertian, yaitu: Identifikasi bakat, Seleksi bakat dan
Pengembangan bakat. Untuk  memperjelas perbedaan makna antara
ketiga terminologi di atas, berikut ini akan dikutipkan pandangan Hoare
terhadap ketiga terminologi tersebut. Hoare mendefinisikan  Identifikasi
bakat  adalah penjaringan terhadap anak dan remaja dengan
menggunakan tes-tes jasmani, fisiologis dan keterampilan tertentu untuk
mengidentifikasi potensi-potensi yang dimiliki, agar berhasil dalam
aktivitas olahraga yang dipilih(keterlibatan dalam aktivitas olahraga
sebelumnya tidak merupakan prasyarat bagi identifikasi ini). Sedangkan
seleksi bakat  diartikan dengan penjaringan atlet-atlet muda yang sedang
berpartisipasi dalam olahraga yang dilakukan oleh para pelatih
berpengalaman dengan menggunakan tes-tes jasmani, fisiologis, dan
keterampilan tertentu dalam upaya melakukan identifikasi terhadap atlet
yang mempunyai kemungkinan paling berhasil dalam cabang olahraga
yang diikutinya. Dan yang dimaksudkan dengan  pengembangan bakat
adalah proses pemilihan calon atlet pada tahap berikutnya . Pada tahap
ini atlet harus diberikan infra struktur memadai yang memungkinkan
atlet dapat mengembangkan potensinya secara penuh. Pemberian infra
struktur ini termasuk di dalamnya kepelatihan yang tepat dan program
latihan serta kompetisi yang sejalan dengan dukungan fasilitas, peralatan
dan keilmuan (Hoare D.,1995).
PROSES IDENTIFIKASI BAKAT
Untuk mendapatkan calon atlet yang kelak diharapkan dapat
meraih prestasi, diperlukan upaya dengan beberapa tahapan. Bompa
menyatakan ada beberapa tahapan yang harus dikuti untuk
mempersiapkan atlet. Adapun tahapan yang dimaksud adalah: (1)
Mencari calon atlet berbakat; (2) Memilih calon atlet pada usia muda; (3)
Memonitor calon atlet tersebut secara terus-menerus dan teratur; (4)
Membantu calon atlet agar dapat meraih prestasi puncak.
Selama ini hasil observasi menunjukkan bahwa eksistensi atlet elit
selalu berkait erat dengan kerja dan waktu yang diinvestasikan para
pelatih kepada calon atlet yang memiliki kemampuan alami superior.
Dalam pernyataan tersebut tersirat suatu peringatan ataupun arahan agar
supaya potensi, waktu dan energi yang dimiliki pelatih tidak terbuang
165
Pengembangan Instrumen Identifikasi Bakat Olahraga (Setyo Nugroho)
tanpa arti dalam proses kepelatihannya, demikian juga dengan
diperolehnya hasil berlatih yang jauh dari optimal, maka perlu dilakukan
pemilihan calon atlet yang mempunyai kemungkinan paling besar untuk
mengembangkan potensinya. Dengan demikian, dapatlah ditarik konklusi
bahwa tujuan utama melakukan identifikasi calon atlet adalah untuk
mengidentifikasi dan memilih calon atlet yang mempunyai kemampuan
terbaik sesuai dengan cabang olahraga yang dipilih.
Bompa (Bompa, 1990) menyatakan di negara barat identifikasi
calon atlet bukanlah merupakan suatu konsep baru dalam bidang
olahraga, meskipun kegiatan identifikasi calon atlet ini belum banyak
dikerjakan secara formal. Sebagai ilustrasi dapat dicermati keadaan
berikut: pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, sebagian
besar negara Eropah Timur telah menetapkan metode khusus untuk
melakukan identifikasi calon atlet potensial. Prosedur pemilihan calon
atlet ditemukan dan diarahkan oleh para ilmuwan olahraga, selanjutnya
para ilmuwan memberikan rekomendasi beberapa calon atlet berpotensi
dalam cabang olahraga tertentu kepada para pelatih. Dengan
menggunakan prosedur pemilihan calon atlet seperti disebutkan di atas
hasilnya sangat menakjubkan. Beberapa atlet Republik Demokrasi
Jerman yang meraih medali di arena Olimpiade 1972, ternyata terpilih
menjadi calon atlet melalui pemilihan dengan cara ilmiah. Hal yang sama
terjadi pula pada para atlet Bulgaria di arena Olimpiade 1976. Hampir
80% peraih medali negara tersebut merupakan hasil dari suatu proses
identifikasi calon atlet yang dilakukan secara cermat.
Ilustrasi lain dapat disajikan sebagai berikut: pada tahun 1976 di
Romania terdapat sekelompok ilmuwan dan ahli olahraga dayung yang
memilih remaja puteri untuk disiapkan menjadi atlet cabang olahraga
dayung. Pada awalnya dari 27 000 remaja puteri dipilih sebanyak 100
orang. Dari 100 orang remaja puteri yang terpilih pada tahun 1978
disusutkan menjadi 25 orang. Perlu diketahui, bahwa sebagian besar
atlet (dari 25 orang remaja puteri) ini menjadi anggota kontingen
Romania di Olimpiade Moskow 1980. Partisipasi 25 remaja puteri
Romania ini di arena Olimpiade Moskow, meraih 1 medali emas, 2
medali perak, dan 2 medali perunggu. Sedangkan kelompok remaja
puteri lainnya yang dipilih pada akhir tahun 1970-an menghasilkan 5
166
JURNAL IPTEK OLAHRAGA, VOL.8, No.3, September 2006: 163-177.
medali emas dan 1 medali perak di arena Olimpiade Los angeles, dan
meraih 9 medali emas di arena Olimpiade Seoul 1988 (Bompa, 1990).
Ilustrasi di atas akan memperkuat keyakinan para ahli teori
latihan bahwa pola pembinaan yang dilakukan telah berada pada jalur
yang benar. Oleh karena itu, agar mendapatkan manfaat lebih lanjut,
maka proses identifikasi calon atlet harus menjadi satu tugas yang
mengasyikkan dan dilakukan secara terus-menerus. Untuk melakukan
identifikasi bakat, yang pada gilirannya diharapkan dapat menemukan
calon atlet yang dapat meraih prestasi tinggi dalam bidang olahraga.
diperlukan pengembangan kriteria yang bersifat psiko-biologik,
Penggunaan kriteria ilmiah dalam proses identifikasi calon atlet
mempunyai beberapa keuntungan antara lain: (1) Secara substansial
dapat mengurangi waktu yang diperlukan dalam upaya meraih prestasi
puncak; (2) Dapat mengeliminir volume kerja, energi dan pemborosan
potensi yang dimiliki pelatih. Sebab efektifitas latihan yang diberikan
pelatih kepada atlet akan meningkat, jika latihan tersebut diberikan
kepada calon atlet berkemampuan istimewa; (3) Dapat  meningkatkan
sikap kompetitif dan variasi tujuan yang dimiliki atlet dalam upaya
meraih tingkat kinerja puncak, yang hasil akhirnya akan membuat
anggota tim semakin kuat dan lebih homogen, serta mempunyai kinerja
internasional lebih baik; (4) Dapat meningkatkan rasa percaya diri calon
atlet, sebab dinamika kinerja calon atlet ternyata lebih baik dibandingkan
dengan kinerja yang ditampilkan oleh para atlet kelompok umur sama
yang dilatih tidak melalui proses seleksi secara ilmiah; (5) Secara tidak
langsung mendukung penerapan latihan dengan pendekatan ilmiah,
karena ahli para olahraga yang membantu dalam mengidentifikasi calon
atlet, termotivasi untuk meneruskan dan memonitor latihan yang
dilakukan calon atlet tersebut.
METODE IDENTIFIKASI BAKAT
Dalam literatur teori latihan dikenal dua metode dasar untuk
melakukan seleksi, yaitu: metode seleksi alami (natural selection) dan
metode ilmiah (scientific selection) (Bompa, 1990). Metode seleksi
alamidipertimbangkan sebagai metode dengan pendekatan normal
dalam pengembangan potensi atlet. Metode ini berasumsi bahwa atlet
yang mengikuti aktivitas olahraga merupakan hasil pengaruh lokal
167
Pengembangan Instrumen Identifikasi Bakat Olahraga (Setyo Nugroho)
(tradisi sekolah, keinginan orang tua, ataupun keinginan kelompok
sepermainannya), sehingga evolusi prestasi atlet ditentukan atau
tergantung pada pilihan yang bersifat alami. Oleh karena itu, evolusi
prestasi atlet kerapkali sangat lamban, hal ini disebabkan atlet telah
melakukan pilihan cabang olahraga yang tidak tepat baginya. Sedangkan
Metode seleksi Ilmiah,  merupakan metode pemilihan calon atlet yang
dilakukan pelatih terhadap para remaja prospektif didukung dengan
bukti-bukti bahwa calon atlet mempunyai kemampuan alami untuk
cabang olahraga yang dilatihkan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan
bahwa waktu yang diperlukan untuk meraih prestasi puncak bagi calon
atlet yang dipilih secara ilmiah lebih singkat, bila dibandingkan dengan
calon atlet yang dipilih melalui metode alami (Bompa, 1990).
Berdasarkan pernyataan di atas, metode pemilihan calon atlet
yang dilakukan secara ilmiah sudah selayaknya mendapatkan
pertimbangan secara ketat, khususnya bagi cabang olahraga yang
memerlukan persyaratan tinggi dan berat badan (seperti: bola basket,
bola voli, sepak bola, mendayung, lempar lembing, dsb), Hal yang sama
dapat pula ditujukan pada cabang olahraga lain yang memerlukan
kecepatan, waktu reaksi, koordinasi dan power yang dominan (seperti:
lari cepat, judo, hoki, nomor lompat dalam atletik, dsb). Dengan bantuan
ilmuwan olahraga, kualitas yang dibutuhkan dapat dideteksi, dan sebagai
hasil pengujian ilmiah yang dilakukan oleh profesional yang
berkompeten di bidangnya, calon atlet berberbakat dapat dipilih secara
ilmiah dan selanjutnya dapat diarahkan pada cabang olahraga yang
sesuai.
KRITERIA IDENTIFIKASI CALON ATLET
Prestasi tinggi dalam olahraga memerlukan calon atlet dengan
profil biologik khusus, kemampuan biomotorik menonjol, dan ciri-ciri
fisiologik yang kuat. Pada dekade terakhir, ilmu latihan telah melangkah
ke depan secara impresif, dan ini merupakan dukungan penting bagi
perkembangan prestasi atlet. Perkembangan dramatik lainnya juga telah
dilakukan berkaitan dengan kuantitas dan kualitas latihan. Walaupun
demikian, jika partisipan yang terlibat dalam aktivitas olahraga memiliki
hambatan biologik, atau mempunyai kekurangan dalam hal kemampuan
yang dipersyaratkan cabang olahraga tertentu, maka kekurangan awal
168
JURNAL IPTEK OLAHRAGA, VOL.8, No.3, September 2006: 163-177.
dalam hal kemampuan alami ini sulit ditanggulangi, meskipun para atlet
melakukan latihan dengan jumlah latihan berlebih. Oleh karena itu,
identifikasi calon atlet merupakan sesuatu yang vital dalam pencapaian
prestasi olahraga.
Pandangan para ahli teori latihan sudah jelas, bahwa latihan
optimal memerlukan kriteria optimal pula bagi identifikasi calon atlet,
sehingga permasalahan validitas, objektivitas dan reliabilitas kriteria
pemilihan calon atlet telah menjadi sesuatu yang menarik perhatian
banyak ahli. Seiring dengan perkembangan pengetahuan di bidang tes,
pengukuran dan evaluasi, tampaknya penting tidaknya kriteria
identifikasi calon atlet tidak menjadi permasalahan pelik lagi, karena
permasalahan yang dihadapi dapat dipecahkan dengan menggunakan
pengetahuan tersebut. Bagi individu yang tidak terpilih untuk
berpartisipasi dalam olahraga prestatif tidak berarti tidak
diperkenankan melakukan aktivitas olahraga. Kelompok ini dapat
berpartisipasi dalam program olahraga lainnya yang bersifat rekreasional,
dimana individu dapat mengisi kebutuhannya dibidang kejasmaniahan
dan sosial, atau bahkan berpartisipasi dalam kompetisi meskipun pada
level yang berbeda. Sebagai langkah selanjutnya di bawah ini
dikemukakan beberapa kriteria utama dalam melakukan identifikasi atlet:
Kesehatan
Kesehatan merupakan sesuatu yang mutlak bagi setiap orang yang
akan berpartisipasi dalam latihan olahraga. Oleh karena itu, calon atlet
sebelum diterima dalam suatu perkumpulan harus melalui pengujian
medik. Dokter perlu memberi rekomendasi dan pelatih sebaiknya
memilih calon atlet yang memiliki kesehatan sempurna. Selama
pengujian, ahli medik dan ahli pengujian di bidang jasmani, seharusnya
mengobservasi status calon atlet, apakah calon atlet mempunyai
“malfunction” secara fisik maupun organik?Dan selanjutnya
memberi rekomendasi yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Untuk cabang-cabang olahraga dinamis (seperti: hoki, bola basket,
atletik, renang, dll), calon atlet dengan kondisi  “malformation”tidak
dapat dipilih, tetapi untuk olahraga dengan karakteristik statik (seperti:
menembak, panahan, bowling, dll) diskriminasi yang diberlakukan
seperti pada olahraga dinamis dapat lebih diperlonggar. Sama seperti di
atas, status fungsional individu, seperti: kemampuan menggerakkan
169
Pengembangan Instrumen Identifikasi Bakat Olahraga (Setyo Nugroho)
lengan, kaki, dll, sebaiknya juga memegang peran penting dalam
identifikasi calon atlet, karena disparitas fungsional dapat berperan
restriktif (pembatas). Satu hal lagi, diskriminasi diantara calon akhirnya
harus dihubungkan dengan kebutuhan fungsional dan kekhususan cabang
olahraga.
Kualitas Biometrik.
Kualitas biometrik atau ukuran antropometrik calon atlet
merupakan “asset” penting bagi beberapa cabang olahraga, oleh
karenanya kualitas biometrik ini harus dipertimbangkan diantara banyak
kriteria  utama dalam identifikasi calon atlet. Tinggi dan berat badan,
ataupun panjang anggota badan, kerapkali berperan dominan dalam
cabang-cabang olahraga tertentu, meskipun terjadi pada tahap awal
identifikasi calon atlet beberapa cabang olahraga yang dilakukan pada
umur 4-6 tahun (seperti: senam, renang). Seperti dipahami bersama, para
ahli akan mengalami kesulitan memprediksi dinamika pertumbuhan dan
perkembangan calon atlet pada usia muda. Oleh karena itu, pada fase
pertama identifikasi, perkembangan jasmani calon atlet harus
menampakkan keharmonisannya. Ini dapat dilakukan dengan menguji
persendian kaki, panggul dan lebar bahu, dan rasio antara lebar panggul
dengan lebar bahu.
Hereditas
Hereditas kerapkali memainkan peran penting dalam latihan.
Anak-anak cenderung mewarisi karakteristik biologik dan psikologik
orang tuanya, meskipun melalui pendidikan, latihan, dan pengkondisian
sosial, kualitas yang diwariskan mungkin hanya sedikit mengalami
perubahan. Sampai saat ini, para ahli belum memperoleh kesamaan
pandang tentang peran hereditas terhadap latihan. Radut menyatakan
bahwa hereditas merupakan sesuatu yang penting, tetapi tidak mutlak
berperan dalam latihan, sementara Klissouras, dkk mempertimbangkan
perkembangan kapabilitas fungsional pada akhirnya akan dibatasi oleh
potensi genetik seseorang (Bompa, 1990). Dan Bompa sebagai salah satu
pakar teori latihan menyatakan secara tidak langsung bahwa sistem dan
fungsi ditentukan secara genetik.
Fasilitas dan Iklim Olahraga.
Fasilitas dan iklim dapat berperan sebagai pembatas berbagai
olahraga bagi calon atlet terpilih. Oleh karena itu, jika kondisi alam atau
170
JURNAL IPTEK OLAHRAGA, VOL.8, No.3, September 2006: 163-177.
fasilitas yang tersedia kurang memenuhi persyaratan, maka bisa jadi atlet
yang dikategorikan kurang berbakat dapat berlatih dengan hasil lebih
baik dibandingkan atlet berpotensi. Tentunya, kondisi ini bukan yang
diharapkan para ahli teori latihan, karena bagaimanapun kinerja optimal
sulit diperoleh calon atlet tidak berpotensi.
Tersedianya Para Akhli.
Tersedianya para ahli atau pelatih yang berpengetahuan dalam
bidang identifikasi dan pengujian, juga menjadi hal yang membatasi
proses pemilihan calon atlet. Dengan menggunakan metode ilmiah yang
canggih, kemungkinan menemukan calon atlet superior menjadi lebih
tinggi. Universitas ataupun institusi keolahragaan yang mempunyai
peralatan/fasilitas pengujian dan para ahli yang berkualitas, dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan seleksi calon atlet, dan memonitor
program latihan yang dilakukan calon atlet. Seorang pelatih tidak dapat
menanggulangi permasalahan prestasi olahraga seorang diri. Jika
menginginkan peningkatan latihan yang signifikan, maka kerjasama
antara para ahli latihan, ilmuwan olahraga, dan para pelatih menjadi hal
yang sangat vital,
TAHAPAN IDENTIFIKASI BAKAT
Identifikasi bakat secara komprehensif tidak dapat dipecahkan
dalam satu usaha, akan tetapi dilakukan selama beberapa tahun yang
terbagi menjadi tiga tahapan:
Tahap Pertama
Dalam banyak kasus, identifikasi calon atlet pada fase primer terjadi
pada fase pre-pubertas  (3-8 tahun). Pada fase ini didominasi oleh
pengujian yang dilakukan oleh dokter terhadap kesehatan calon atlet dan
perkembangan jasmani secara umum, juga pengujian ini dipolakan untuk
mendeteksi tingkat keberfungsian tubuh. Porsi pengujian biometrik
dapat difokuskan kepada 3 konsep utama: (1) Menemukan defisiensi
jasmani yang dapat membatasi calon atlet; (2) Menentukan tingkat
perkembangan jasmani calon atlet dengan menggunakan alat-alat
sederhana; (3) Mendeteksi “eventual genetic dominants” (seperti tinggi
badan), sehingga para remaja dapat diarahkan untuk memasuki kelompok
olahraga, yang kelak menjadi spesialisasinya.
171
Pengembangan Instrumen Identifikasi Bakat Olahraga (Setyo Nugroho)
Tahap Kedua
Tahap ini dilakukan selama dan sesudah pubertas. Fase ini
mewakili fase seleksi calon atlet paling penting, biasanya pada fase ini
juga digunakan oleh para remaja yang telah siap untuk mencari
pengalaman ke dalam latihan olahraga yang terorganisir.
Teknik yang digunakan dalam seleksi tahap kedua harus menilai
dinamika parameter biometrik dan fungsional, karena tubuh calon atlet
telah siap melakukan adaptasi pada tingkat tertentu terhadap kekhususan
dan persyaratan olahraga yang dilakukan. Sebagai akibatnya pengujian
kesehatan harus dilakukan secara rinci dan tujuannya adalah mendeteksi
hambatan yang dapat menurunkan prestasi.
Saat kritis bagi remaja pada fase pubertas adalah adanya
perubahan biometrik yang besar (misalnya: anggota badan bagian bawah
tumbuh dengan nyata, otot-otot berkembang tidak proporsional, dll).
Oleh karena adanya perkembangan jasmani secara umum tersebut, maka
satu hal yang harus dipertimbangkan oleh para ahli adalah adanya
pengaruh latihan tertentu terhadap perkembangan dan pertumbuhan atlet.
Latihan intensif, latihan beban berat, dan latihan kekuatan pada anak-anak umur awal menghambat pertumbuhan, karena akan mempercepat
penutupan serabut tulang rawan. Hal ini bisa dicontohkan dengan
terjadinya penutupan yang sifatnya prematur terhadap tulang panjang.
Oleh karena itu, bagi atlet yang melakukan program latihan dengan
mendasarkan pada proses seleksi alami diharapkan selalu berhubungan
dengan pelatihnya, karena semua aspek yang digambarkan di atas akan
berpengaruh terhadap perubahan prestasinya.
Identifikasi calon atlet pada fase kedua, psikolog olahraga harus
mulai memainkan perannya lebih penting dengan melakukan pengujian
psikologik secara komprehensif. Setiap profil psikologik atlet harus
dikumpulkan. Dengan kumpulan data tersebut para psikolog dapat
menyatakan ciri-ciri psikologik atlet yang diperlukan untuk berlatih
cabang olahraga tertentu. Hasil tes ini juga akan membantu dalam
menentukan kebutuhan psikologik apa yang diperlukan di masa datang.
Tahap Akhir
Identifikasi atlet tahap akhir ini terutama berhubungan dengan
calon anggota tim nasional.Tugas yang harus dilakukan pada tahap ini
172
JURNAL IPTEK OLAHRAGA, VOL.8, No.3, September 2006: 163-177.
harus sangat rinci, reliabel dan berkorelasi tinggi dengan kekhususan dan
persyaratan cabang olahraga.
Diantara beberapa faktor utama yang di kemukakan di atas, satu
hal yang harus diuji adalah kesehatan atlet, adaptasi fisiologik dalam
latihan dan kompetisi, kemampuan untuk menanggulangi stress, dan
yang paling penting adalah menguji potensinya untuk mengembangkan
prestasinya lebih lanjut.
Satu penilaian obyektif di atas dilakukan secara periodik terhadap
kondisi medik, psikologik, dan uji latihan. Data yang diperoleh dari
pengujian dicatat dan dibandingkan dengan maksud untuk
mengilustrasikan dinamika kinerja para atlet dari tahap primer sampai
pada tahap akhir selama berkarier dalam dunia olahraga. Sebuah model
optimal sebaiknya ditetapkan untuk masing-masing tes dan masing-masing calon atlet dibandingkan dengan model tersebut. Dari
perbandingan itu dapat disimpulkan hanya calon atlet istimewa saja yang
sebaiknya dipertimbangkan menjadi anggota tim nasional.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PEMANDUAN BAKAT
OLAHRAGA
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan
instrumen pemanduan bakat :
Pendekatan Pertama
Instrumen pemanduan bakat tipe ini merupakan suatu tes baterei
yang disusun oleh pengembang tes. Penyusunan tes dapat dilakukan
dengan mendasarkan pada kriteria seperti yang telah diidentifikasi oleh
Dragan. Sekiranya identifikasi yang dilakukan Dragan dirasakan belum
cukup menggambarkan kemampuan yang harus dimilik oleh calon atlet
olahraga tertentu, maka analisis terhadap kriteria dapat dipertajam oleh
pengembang tes. Dari hasil identifikasi yang ada dapat dicari macam-macam tes yang sesuai dengan karakteristik cabang olahraga yang
menjadi sasaran . Sebagai contoh: Tes pemanduan bakat bola basket
Dari hasil analisis yang dilakukan Dragan diperoleh kriteria
sebagai berikut. Biometrik: Tubuh tinggi, lengan panjang, Biomotorik:
power anaerobik tinggi, kapasitas aerobik tinggi, koordinasi,  Psikologik:
kemampuan berpikir untuk menjalankan taktik, semangat kerjasama,
tahan terhadap kelelahan dan stress.
173
Pengembangan Instrumen Identifikasi Bakat Olahraga (Setyo Nugroho)
Dengan mendasarkan pada kriteria di atas, selanjutnya
pengembang berupaya mencari butir-butir tes yang sesuai dengan
kebutuhan permainan bola basket. Di bawah ini diberikan sebuah contoh
yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam penyusunan tes
pemanduan bakat.
Tabel 1.Faktor , Bentuk Tes Dan Parameter

BENTUK TES DAN PARAMETER :

A. KUALITAS BIOMETRIK
1. TINGGI BADAN
2. RENTANG LENGAN CENTIMETER

B. KUALITAS BIOMOTORIK
- POWER ANAEROBIK
- KEMAMPUAN AEROBIK
- KOORDINASI
- LARI 40 METER
- LARI MULTI TAHAP
- LEMPAR TANGKAP BOLA

DETIK TINGKAT/ SERI FREKUENSI
1. KEMAMPUAN PSIKOLOGIK
- KEMAMPUAN BERPIKIR
- KERJASAMA
- KETAHANAN TERHADAP STRESS
2. TES INTELEGENSI
3. SOSIOMETRI
4. STRESS INVENTORY

SKOR TES

ANALISIS SOSIOGRAM

SKOR TES

Sumber:
Arnot, R. B. dan Gaines C. L.  Sports Talent
Hastad dan Lacy, Measurementand Evaluation: in Contemporary
Physical Education
Safrit J. M. Introduction to Measurement in Physical Education and
Exercise Science
Pendekatan Kedua
Pendekatan ke dua ini menggunakan tes baku yang telah
dikembangkan para ahli. Di beberapa negara maju telah banyak disusun
tes yang bersifat baku yang dipergunakan untuk mengukur bakat. Salah
satu tes baku yang cukup dikenal di Indonesia adalah tes identifikasi
bakat yang disusun oleh Australian Sports Commision. Tes identifikasi
174
JURNAL IPTEK OLAHRAGA, VOL.8, No.3, September 2006: 163-177.
bakat tersebut pada tahun 1998 telah diadopsi dan diadaptasikan oleh
Kantor Negara Pemuda dan olahraga, yang. secara singkat dapat
digambarkan sebagai:
Tabel 2.Faktor, Bentuk, Dan Butir Tes

FAKTOR BENTUK TES PARAMETER
1. BENTUK DAN UKURAN
TUBUH
1. TINGGI BADAN
2. BERAT BADAN
3. TINGGI DUDUK
4. RENTANG
LENGAN
1. CENTIMETER
2. KILOGRAM
3. CENTIMETER
4. CENTIMETER
2.  KEMAMPUAN JASMANI
TERDIRI DARI:
- KOORDINASI
TANGAN-MATA
- KEKUATAN BADAN
BAGIAN ATAS
- POWER (DAYA
LEDAK)
- KELINCAHAN
- KECEPATAN
- KAPASITAS AEROBIK
5. LEMPAR
TANGKAP
6. LEMP. B.
BASKET
7. LOMPAT TEGAK
8. LARI BOLAK-BALIK
9. LARI 40 METER
10. LARI MULTI
TAHAP
5. FREKUENSI
6. METER
7. CENTIMETER
8. DETIK
9. DETIK
10. TINGKAT:
SERI:
Sumber: Kantor Menegpora, Pedoman Pemanduan Bakat Olahraga.
PENUTUP
Untuk mengakhiri uraian tulisan ini, dapatlah ditarik beberapa
proposisi yang dapat dikemukakan sebagai berikut:
Identifikasi bakat terhadap calon atlet perlu dilakukan dan dalam
konteks ini yang dimaksud dengan identifikasi bakat adalah penjaringan
terhadap anak-anak dan remaja dengan menggunakan tes–tes jasmani,
fisiologis, dan keterampilan tertentu untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang dimiliki, agar berhasil dalam aktivitas olahraga yang dipilih.
Identifikasi bakat yang dilakukan secara ilmiah mempunyai
beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan pendekatan
konvensional, karena metode ilmiah memberikan kemungkinan bagi
175
Pengembangan Instrumen Identifikasi Bakat Olahraga (Setyo Nugroho)
pelatih untuk dapat memilih calon atlet prospektif yang didukung dengan
bukti-bukti kemampuan untuk cabang-cabang olahraga yang dilatihkan.
Ada beberapa kriteria yang dapat dipergunakan untuk melakukan
identidikasi bakat, yaitu: kesehatan,yang di dalamnya tercakup fungsi
dan struktur organ tubuh; kualitas biometrik; faktor hereditas, yang
berkait erat dengan karakteristik biologik dan psikologik;  fasilitas dan
iklimyang mendukung aktivitas olahraga; serta tersedianya para ahli.
Identifikasi calon atlet berbakat tidak dapat dipecahkan hanya
dengan satu usaha, akan tetapi perlu dilakukan beberapa tahun yang
dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: fase primeryang terjadi pada
fase pre-pubertas; fase kedua, fase ini biasanya dilakukan selama dan
sesudah pubertas; danfase akhir, yang biasanya berkaitan dengan calon
anggota tim nasional.
Instrumen pemanduan bakat yang dipergunakan untuk melakukan
identifikasi bakat olahraga calon atlet harus spesifik dan disesuaikan
dengan cabang olahraga masing-masing, yang pengembangannya dapat
dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama
dilakukan dengan cara menyusun tes baterei oleh pengembang tes. Butir-butir tes didapatkan dengan mendasarkan diri pada kriteria identifikasi
bakat sesuai dengan cabang olahraga yang diminati. Sedangkan
pendekatan keduadilakukan dengan menggunakan tes baku yang telah
dikembangkan para ahli di beberapa negara maju. Salah satu tes baku
yang cukup dikenal di Indonesia adalah tes identifikasi bakat yang
disusun oleh Australian Sports Commision. Tes identifikasi bakat yang
dimaksudkan secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut  :
 1.Tes tinggi badan,
2. Tes berat badan,
3. Tes tinggi duduk,
4. Tes rentang lengan,
5. Tes lempar tangkap bola,
6. Tes lempar bola basket,
7. Tes
lompat tegak,
8. Tes lari bolak-balik,
9. Tes lari 40 meter, dan
10 Tes lari
multitahap.
DAFTAR PUSTAKA
Arnot, R. B. dan Gaines C. L. (1986)  Sports Talent.New York: Penguin
Books.
Bompa Tudor O. (1990) Theory And Methodology of Training: The Key
to Athletic Performance. Dubuque. Iowa: Kendall/Hunt Publishing
Company.
176
JURNAL IPTEK OLAHRAGA, VOL.8, No.3, September 2006: 163-177.
Hastad D. N. dan Lacy A. C. ( 1989)Measurement And Evaluation: In
Contemporary Physical Education. Scottsdale, Arizona: Gorsuch
Scarisbrick, Publishers
Hoare D. ( 1995) Talent Identification For Team Sports(Materi
disajikan dalam Lokakarya Nasional Olahraga dan Kepelatihan
diselenggarakan oleh kantor Menpora)
Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (1998) Pedoman
Pemanduan Bakat Olahraga. Jakarta: Kantor MENPORA
Safrit J. M. (1986) Introduction To Measurement In Physical Education
And Exercise Science. Lagos, St. Louis: Times Mirror/Mosby
College Publishing.
177

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
nama saya alif syafitar riansa, panggil saja alif atau fitar atau riansa, informasi lebih lanjut lihat di ; facebook = Riansa cintanya bilqisAndbunda twitter = @syafitar instagram = riansa29 hp: 085258852727 Pin bbm = D0EC10F2
Diberdayakan oleh Blogger.